Hari yang Indah Bersama Anak-Anak YKAKI

Ya ampun ini draft udah dari tahun kapan ya? :-(.
Semakin sadar udah lama gak update blog ini. Tapi ini salah satu perjalanan hidup yang layak dibagikan. So, tak ada salahnya tetap di publish 🙂

 

Sabtu 27 Mei 2012.

Hari ini saya berkesempatan untuk ikut serta dalam acara berbagi kasih dan sukacita bersama adik-adik penderita kanker yang ada di bawah naungan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI). Puji Tuhan sekali karena sahabat saya Debby (teman sekantor) mengajak saya untuk ikut serta di acara ini, padahal saya bukan bagian dari muda-mudi di GKI Pondok Indah, yang merupakan inisiator pelaksana acara ini.

Sebenarnya pada awalnya ragu untuk ikut serta, selain karena saya bukan bagian dari Pemuda/i GKI Pondok Indah, saya juga agak kuatir tidak kuat melihat derita adik-adik para penderita kanker ini. Takut saya malah ikut-ikutan sedih yang ujung-ujungnya bukan membawa kebahagiaan bagi mereka malah kesedihan. Namun dorongan untuk ikut serta cukup besar, sehingga tidak butuh waktu lama bagi saya untuk memutuskan ikut. Tepat satu hari sebelum acara.

Pada hari H ada dua titik temu yang ternyata sudah diatur oleh panitia. Satu di gereja tempat berkumpulnya pemuda-pemudi GKI PI dan satu lagi di rumah singgah YKAKI yang disebut juga “Rumah Kita”. Masing-masing tempat disediakan satu bus besar yang cukup untuk menampung lebih dari 50 orang penumpang. Saya turut serta di bus yang berangkat dari “Rumah Kita”, di dalamnya sudah ada 2 orang utusan panitia yang mengkoordinir dari  “Rumah Kita” dan dua teman lain yang sejenis dengan saya (teman-teman Debby yang ikut meramai-ramaikan acara). Baca lebih lanjut

Pesan Pak Luhut dalam Reuni Alumni PI-Del 2012

Reuni alumni PIDel memang sudah lama tidak pernah dilaksanakan lagi.
Reuni terakhir yang resmi dilakukan bersama-sama dengan yayasan Del adalah tahun 2008 yang lalu. (sekaligus yang pertama dilakukan).
Berbeda dengan reuni sebelumnya, reuni kali ini dilakukan di sebuah tempat pertemuan di Club 21, Djakarta Theater di Jl. MH Thamrin Jakarta pada Sabtu, 17 Maret 2012.
Saya secara pribadi bersemangat mengikuti acara ini, karena memang saya selalu ingin mengikuti perkembangan terbaru dari almamater yang saya cintai, Politeknik Informatika Del.

Jam 9 lewat sedikit saya dan teman-teman sampai di Club 21. Di setiap sudut dan tempat yang banyak ditempeli poster-poster film terbaru tersebut, saya melihat sudah banyak alumni Del yang berkumpul.
Banyak wajah-wajah sudah tidak asing lagi, namun banyak juga yang baru saya lihat di tempat ini. Semua asyik bercengkerama. Kebanyakan mengelompok dengan angkatannya masing-masing. Baca lebih lanjut

Jangan Mau Jadi Robot

Di sore hari sekitar pukul 4, kala otak ini sudah mulai berpikir “pulang.. pulang“, ada satu kerjaan lagi yang mesti aku selesaikan. Mengantarkan laporan bulanan kepada sekretaris pemilik perusahaanku bekerja dan kepada salah satu pimpinan anak perusahaan yang di dalamnya aku terlibat dalam pembuatan laporan bulanan penjualan.

Sebelum melangkah ke lift, terlebih dulu aku memeriksa angka-angka yang tertera di laporan-laporan tersebut. Tapi tidak keseluruhan, hanya kumulatif bulanannya saja. Detailnya tidak aku periksa karena aku sendiri merasa tidak punya selera membaca angka-angka itu. Selain itu, (dan yang terutama) karena aku juga malas memeriksa lembar-per-lembar setebal 74 halaman laporan itu. Yang benar saja, aku bukan orang yang begitu betah memandangi satu persatu barisnya dan mencocokkannya dengan data yang ada di database-ku. Baca lebih lanjut

Hikmah di Balik Banjir

BAGIAN II

Saat aku kembali bekerja, curah hujan sudah mulai berkurang walaupun masih mendung. Perlahan-lahan namun pasti, minggu itu juga air surut. Praise God. Jumat malam, aku kembali ke rumah di semper. Namun ntah kenapa, hari sabtu aku mulai demam. Awalnya aku kira demam biasa, mungkin kelelahan atau kondisi cuaca yang tidak menentu. Ditambah lagi beberapa kali aku kehujanan waktu pulang kerja. Sampai 3 hari demamku  turun naik. Bahkan mataku sampai merah sebelah. Akhirnya aku minta ijin untuk tidak masuk pada hari senin, berharap hari selasa aku udah sembuh. Sebagai info tambahan, waktu itu aku masih bekerja selama 3 bulan. Jadi rasa takut untuk ijin atau sakit masih sangat besar. Rasa bersalah karena tidak ada yang menghandel pekerjaanku begitu kuat untuk menyuruhku kembali bekerja. Namun apa daya, tubuhku tak mau kompromi. Aku tetap saja demam seperti hari-hari sebelumnya, selera makanku menurun dan badanku lemas luar biasa, walaupun aku ingin sekali bekerja. Hahaha.. sok loyal banget ya.. padahal udah tau sakit 😀

 

Hari ketiga aku dibawa ke dokter, namun karna dokternya sedang tidak ada, aku diperiksa oleh bidan yang bekerja kepada dokter tersebut. Kakak bidan ini menyarankanku untuk memeriksa darah, “takutnya demam berdarah pak” begitu kata kakak Bidan itu ke bapak. Rumah Sakit Islam-Jakarta Utara yang adalah rumah sakit yang terdekat dengan rumah dan kakak bidan itu menyarankanku untuk cek darah disana. Deg.. jantungku langsung tak tenang begitu disuruh periksa darah. Aku tak terbiasa dengan dokter, tidak terbiasa dengan rumah sakit, tidak terbiasa dengan suntik-suntik (ughh.. i hate that…). Aku lebih suka di rawat sama mama walaupun harus diomelin. Seingatku, tak pernah sekalipun aku masuk rumah sakit dan dirawat oleh dokter.  Aku juga tidak suka rumah sakit. Hawanya menyeramkan bagiku. Ntah kenapa, apa mungkin karna waktu kecil aku pernah tinggal di dekat kamar mayat rumah sakit di Tarutung yang membuat Image rumah sakit begitu jelek dimataku? Ntahlah.. Baca lebih lanjut

Banjir Jakarta -2007-

Aku sedang ingin bercerita saja. Bercerita tentang kisah yang berkesan kepadaku di masa lalu. Sebagai catatan buatku kelak, siapa tau otak ini sudah mulai sulit untuk mengingat dan yang tinggal hanyalah tulisan.. 🙂

BAGIAN I

Ini adalah sebuah kisah di masa lalu yang mengajarkanku betapa pentingnya arti kesehatan buatku, arti cinta dan arti hidupku.

Februari 2007

Sudah lebih satu minggu banjir menggenangi Jakarta. Tak terkecuali rumah dinas Bapak-ku di daerah Semper juga dapat “bagian”. Syukurnya rumah itu berlantai dua, sehingga lantai 2 bisa digunakan untuk tempat tinggal. Sedangkan lantai satu sudah tergenang air setinggi betis orang dewasa. Di depan rumah, jangan di tanya. Lapangan yang biasanya digunakan orang untuk bermain bola dan parkir kini sudah seperti danau buatan.

Aku tak menyaksikan secara langsung proses naiknya air tersebut, karena saat itu aku sedang bekerja dan pada hari senin-jumat tinggal di Condet bersama Inangudaku (sebutan untuk tante/adik mamaku yang sudah menikah). Aku tau banjir sudah setinggi itu dari bapak dan mama serta dari berita yang tak bosan-bosannya melaporkan keadaan terbaru banjir Jakarta. Baca lebih lanjut

Inspirasi dari Kick Andy

Logo-kickandy-comSelagi berselancar di dunia internet, secara kebetulan saya teringat akan situs yang sangat saya gemari namun akhir-akhir ini jarang saya kunjungi http://www.kickandy.com
Awal aku tertarik membaca situs ini adalah karena ketertarikanku akan acara yang dibawakan oleh Andy F. Noya di MetroTV.

Dari acara itu aku tau bahwa ternyata Kick Andy juga memiliki situs di dunia maya.
Dari situ, aku suka baca-baca segala macam berita disini, terutama kisah-kisah inspiratif. Aku memang penggemar kisah-kisah inspiratif. Kisah-kisah yang biasanya menyentuh hati, membuat tawa, haru atau terkadang tangis atau meningkatkan semangat hidup. Kisah-kisah seperti ini lebih berbicara banyak kepadaku tentang arti kehidupan, menumbuhkan sikap sosial yang tinggi, menumbuhkan sikap empati terhadap orang lain dan juga menumbuhkan semangat juang yang tinggi dalam menjalani hidup. Baca lebih lanjut