Mama, I Love You

Mamaku..
Hari ini katanya hari Ibu. Aku tak tau siapa yang menetapkan hari ini 22 desember sebagai hari Ibu.
sesungguhnya tak peduli itu tanggal berapa, aku selalu bangga dan berterima kasih atas segala kebaikan mama kepadaku.
Engkau adalah mama yang melahirkanku. Orang pertama yang kukenal.
Ups.. salah, orang yang pertama kali mengenalku.
Tentu saja, karena engkaulah yang mengandungku selama kurang lebih 9 bulan di dalam perutmu.
Di dalam perut mamalah Tuhan tempatkan aku, membentukku dan memberikanku pertumbuhan menjadi manusia yang utuh dan sempurna.
Mama adalah orang yang tepat yang Tuhan pilih untuk mendidik dan membesarkanku.
Dan ya… tentunya bersama dengan bapak terkasih-ku 🙂 Baca lebih lanjut

Hikmah di Balik Banjir

BAGIAN II

Saat aku kembali bekerja, curah hujan sudah mulai berkurang walaupun masih mendung. Perlahan-lahan namun pasti, minggu itu juga air surut. Praise God. Jumat malam, aku kembali ke rumah di semper. Namun ntah kenapa, hari sabtu aku mulai demam. Awalnya aku kira demam biasa, mungkin kelelahan atau kondisi cuaca yang tidak menentu. Ditambah lagi beberapa kali aku kehujanan waktu pulang kerja. Sampai 3 hari demamku  turun naik. Bahkan mataku sampai merah sebelah. Akhirnya aku minta ijin untuk tidak masuk pada hari senin, berharap hari selasa aku udah sembuh. Sebagai info tambahan, waktu itu aku masih bekerja selama 3 bulan. Jadi rasa takut untuk ijin atau sakit masih sangat besar. Rasa bersalah karena tidak ada yang menghandel pekerjaanku begitu kuat untuk menyuruhku kembali bekerja. Namun apa daya, tubuhku tak mau kompromi. Aku tetap saja demam seperti hari-hari sebelumnya, selera makanku menurun dan badanku lemas luar biasa, walaupun aku ingin sekali bekerja. Hahaha.. sok loyal banget ya.. padahal udah tau sakit 😀

 

Hari ketiga aku dibawa ke dokter, namun karna dokternya sedang tidak ada, aku diperiksa oleh bidan yang bekerja kepada dokter tersebut. Kakak bidan ini menyarankanku untuk memeriksa darah, “takutnya demam berdarah pak” begitu kata kakak Bidan itu ke bapak. Rumah Sakit Islam-Jakarta Utara yang adalah rumah sakit yang terdekat dengan rumah dan kakak bidan itu menyarankanku untuk cek darah disana. Deg.. jantungku langsung tak tenang begitu disuruh periksa darah. Aku tak terbiasa dengan dokter, tidak terbiasa dengan rumah sakit, tidak terbiasa dengan suntik-suntik (ughh.. i hate that…). Aku lebih suka di rawat sama mama walaupun harus diomelin. Seingatku, tak pernah sekalipun aku masuk rumah sakit dan dirawat oleh dokter.  Aku juga tidak suka rumah sakit. Hawanya menyeramkan bagiku. Ntah kenapa, apa mungkin karna waktu kecil aku pernah tinggal di dekat kamar mayat rumah sakit di Tarutung yang membuat Image rumah sakit begitu jelek dimataku? Ntahlah.. Baca lebih lanjut

Kangen

Sore itu ada sms masuk dari adik bungsuku..
Smsnya singkat, hanya berbunyi: “Ka’, aq kgn bpk sm ma2”

Hatiku langsung trenyuh..
Pastilah dia sering kangen begitu.. Baru kali ini dia pisah sama Bapak dan Mamaku. Beda dengan 3 orang kakak dan abangnya yang udah terlebih dulu merasakannya. Kami bertiga aja sering kangen dengan Bapak-Mama walopun udah pernah jauh-jauhan dengan Bapak dan Mama. Baca lebih lanjut

Menghargai setiap “Titipan Tuhan”

Tadi pagi aku terbangun pagi-pagi sekali. Jam setengah 5 pagi. Aku terbangun karna aku mengalami mimpi buruk. Dalam tidurku itu aku menangis perih sekali karena dalam mimpiku itu bapakku meninggal.
Waktu terbangun, ternyata hanya mimpi. Tapi menyadari mimpi buruk itu, aku jadi bener-bener menangis.
Spontan aku langsung berdoa karna aku takut sekali kehilangan orang tuaku dan orang-orang terdekatku yang lain.
Aku mohon supaya Tuhan jangan jemput orang tua dan orang-orang terdekatku dulu. “Aku belum siap Tuhan” seruku berkali-kali. Baca lebih lanjut