Pesan Pak Luhut dalam Reuni Alumni PI-Del 2012

Reuni alumni PIDel memang sudah lama tidak pernah dilaksanakan lagi.
Reuni terakhir yang resmi dilakukan bersama-sama dengan yayasan Del adalah tahun 2008 yang lalu. (sekaligus yang pertama dilakukan).
Berbeda dengan reuni sebelumnya, reuni kali ini dilakukan di sebuah tempat pertemuan di Club 21, Djakarta Theater di Jl. MH Thamrin Jakarta pada Sabtu, 17 Maret 2012.
Saya secara pribadi bersemangat mengikuti acara ini, karena memang saya selalu ingin mengikuti perkembangan terbaru dari almamater yang saya cintai, Politeknik Informatika Del.

Jam 9 lewat sedikit saya dan teman-teman sampai di Club 21. Di setiap sudut dan tempat yang banyak ditempeli poster-poster film terbaru tersebut, saya melihat sudah banyak alumni Del yang berkumpul.
Banyak wajah-wajah sudah tidak asing lagi, namun banyak juga yang baru saya lihat di tempat ini. Semua asyik bercengkerama. Kebanyakan mengelompok dengan angkatannya masing-masing. Baca lebih lanjut

Pasar Modern vs Pasar Tradisional

Belakangan ini saya sangat prihatin dengan perkembangan supermarket, minimarket atau apalah itu namanya, pokoknya semua jenis pasar modern.
Bukan..bukan.. saya tidak anti dengan itu semua, justru sekarang ini saya jadi pelanggan setia mereka.

Yang menjadi keprihatinan saya adalah, perkembangannya yang meraja lela itu sebenernya secara perlahan-lahan menutup lapak-lapak kecil yang jualannya tidak selengkap pasar modern ini.

Ya.. nggak apa-apa sih kalaupun pasar-pasar modern ini berkembang pesat, tapi ya maunya jangan lah jaraknya terlalu dekat dan membuat para pedagang-pedangang eceran, gerobak sayur dan pedagang tradisional lainnya itu gigit jari dan bahkan membunuh penopang hidup mereka secara perlahan. Baca lebih lanjut

Laptop dan Meja Impian ;)

Sudah sedari lama sekali, aku ingin punya Laptop/Notebook sendiri terutama setelah aku putuskan untuk melanjutkan kuliah lagi mengambil Sarjana di bidang Sistem Informasi di salah satu kampus di bilangan Jakarta Barat pada september 2008. Selain sebagai kebutuhan untuk mengerjakan tugas-tugas, juga untuk membantuku melampiaskan hobiku nge-blog. Tapi keinginan itu tak kunjung bisa aku realisasikan dikarenakan tingginya kebutuhan hidup seperti uang kost, uang makan, ongkos, pakaian, sepatu dan yang terpenting, biaya perkuliahanku yang cukup besar untuk ukuran kantongku (Dari awal aku memang sudah bertekad mendanai seluruh biaya perkuliahan sendiri tanpa membebankan orang tuaku lagi). Pada akhirnya niat itu aku urungkan dulu. Toh aku masih bisa meminjam laptop pacarku atau temanku yang lain kataku dalam hati.

Terkadang saat ada uang lebih, aku kepikiran lagi untuk beli benda pintar itu. Tapi lagi-lagi aku urungkan dengan berbagai macam pertimbangan dan prioritas yang lebih penting. Toh si pacar juga tidak keberatan laptopnya berlama-lama aku pinjam (terutama saat skripsi, sampai aku hampir lupa kalo laptop itu bukan milikku saking lamanya laptop itu berada di tanganku :D). Sampai akhirnya aku lulus pada akhir Juni 2010 yang lalu, aku tetap juga belum memiliki laptop pribadi yang kuimpi-impikan itu. Namun, Puji Tuhan semuanya terlewati, tanpa harus memaksakan diri membeli laptop :). Baca lebih lanjut

Jangan Mau Jadi Robot

Di sore hari sekitar pukul 4, kala otak ini sudah mulai berpikir “pulang.. pulang“, ada satu kerjaan lagi yang mesti aku selesaikan. Mengantarkan laporan bulanan kepada sekretaris pemilik perusahaanku bekerja dan kepada salah satu pimpinan anak perusahaan yang di dalamnya aku terlibat dalam pembuatan laporan bulanan penjualan.

Sebelum melangkah ke lift, terlebih dulu aku memeriksa angka-angka yang tertera di laporan-laporan tersebut. Tapi tidak keseluruhan, hanya kumulatif bulanannya saja. Detailnya tidak aku periksa karena aku sendiri merasa tidak punya selera membaca angka-angka itu. Selain itu, (dan yang terutama) karena aku juga malas memeriksa lembar-per-lembar setebal 74 halaman laporan itu. Yang benar saja, aku bukan orang yang begitu betah memandangi satu persatu barisnya dan mencocokkannya dengan data yang ada di database-ku. Baca lebih lanjut

Pilihan Hidup

Setiap hari kita selalu diperhadapkan dengan pilihan. Mulai dari hal-hal sepele sampai hal-hal yang kompleks. Setiap saat. Setiap hari kita selalu jadi pembuat keputusan, ada kalanya keputusan yang sudah terlanjur kita buat kita sesali. Tapi ada masanya juga kita syukuri. Yang pasti setiap pilihan yang kita putuskan selalu ada konsekuensi atau resikonya.

hmm.. tunggu. pembahasan ini terlalu berat, sebaiknya aku menceritakan yang lebih sederhana. Sebenarnya tulisan ini muncul dari pikiranku, saat pagi ini aku memutuskan naik metromini 07 ke suatu tujuan, pada awalnya aku ada rencana naik ojek aja atau naik taxi, karna toh tujuannya gak terlalu jauh. Baca lebih lanjut

Kembali Eksis

Hai.. hai.. hai..

Lama sudah aku tidak bersentuhan dengan blog tercintaku ini. Tempatku berbagi sebagian cerita, pemikiran, kegusaran, kekesalan dan semua-semuanya.

Tak kupungkiri, ada rasa kangen menulis di blogku ini.
Hobbi yang bisa menbantuku berbagi kebahagiaan, mengobati rasa kesal atau marah, atau sekedar pelepas penat di pikiran ini.

Memang beberapa bulan terakhir aku terlalu disibukkan oleh skripsiku, yang puji Tuhan telah selesai pada akhir juni kemaren. Lega luar biasa yang kurasakan setelah dinyatakan lulus skripsi dengan nilai yang cukup baik. Baca lebih lanjut

Bersabar dalam Penantian

Hari ini saya berkutat dengan pekerjaan yang itu-itu lagi.
Membosankan memang, dan pada akhirnya “sukses” membuat saya mengantuk.
Rasa kantuk ini beberapa bulan belakangan memang sangat mengganggu produktivitas saya. Jika kemaren-kemaren karena saya mesti lembur lagi untuk mempersiapkan diri untuk ujian, mengerjakan tugas, sekarang ini saya mengantuk karena semangat kerja saya menurun drastis.

Tidak ada passion yang membuat saya begitu menggebu-gebu. Membuat saya begitu ingin tau dan begitu puas ketika berhasil menyelesaikan tugas saya. Seperti dulu, ketika saya berhasil menemukan titik permasalahan user saya. Ketika saya berhasil membantu mereka untuk kembali tersenyum melihat komputernya yang telah beroperasi secara normal sehingga bisa kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tenang dan hati senang.
Saya hampir lupa bagaimana perasaan saya ketika saya menemukan sumber permasalahan di data yang saya tangani. Begitu bahagia ketika menemukan penyelesaian masalah dan memperbaiki sendiri data-data yang kurang akurat. Begitu bersukacita ketika berhasil membuat laporan tanpa cacat.
Itu perasaan saya 2 tahun lalu.
Ketika semua masih tampak baru dan begitu menantang. Saya begitu bergairah dan bersemangat dalam bekerja.

Sekarang, ketika saya diperhadapkan dengan komplain user saya yang itu itu lagi setiap tahunnya, saya mulai sulit untuk tersenyum. Terkadang saya kesal, karena saya merasa seharus nya mereka lebih pintar dibandingkan beberapa tahun lalu.
Mereka seharusnya mengerti apa yang harus dilakukan jika menemukan kesalahan yang itu2 lagi. Bukannya menanyakan kepada saya berulang-ulang.
Tapi, ketika saya kembali “normal”, saya sadari, mereka mungkin kurang mengerti karena mereka tidak fokus disitu.
Bagi mereka teknologi jauh lebih sulit mereka taklukkan ketimbang penjualan produk yang bagi saya justru sebaliknya. Baca lebih lanjut