Jangan Mau Jadi Robot

Di sore hari sekitar pukul 4, kala otak ini sudah mulai berpikir “pulang.. pulang“, ada satu kerjaan lagi yang mesti aku selesaikan. Mengantarkan laporan bulanan kepada sekretaris pemilik perusahaanku bekerja dan kepada salah satu pimpinan anak perusahaan yang di dalamnya aku terlibat dalam pembuatan laporan bulanan penjualan.

Sebelum melangkah ke lift, terlebih dulu aku memeriksa angka-angka yang tertera di laporan-laporan tersebut. Tapi tidak keseluruhan, hanya kumulatif bulanannya saja. Detailnya tidak aku periksa karena aku sendiri merasa tidak punya selera membaca angka-angka itu. Selain itu, (dan yang terutama) karena aku juga malas memeriksa lembar-per-lembar setebal 74 halaman laporan itu. Yang benar saja, aku bukan orang yang begitu betah memandangi satu persatu barisnya dan mencocokkannya dengan data yang ada di database-ku.

Singkat cerita, dengan menyimpan sedikit informasi saja yang kuketahui tentang laporan yang kubuat, aku melangkah menuju lift dan menuju ruang sekretaris yang terletak di lantai atas. Yang mana saban bulan aku kesana, aku selalu berharap tidak pernah ketemu pemilik perusahaan. Malas ditanya-tanyain (sebenernya lebih tepat tidak siap) tentang isi laporan yang kubuat.

Tanpa ada halangan yang berarti, proses penghantaran laporan ke sekretaris berjalan mulus, dan tanda tangan sang sekretaris sudah di kertas yang kubawa sebelumnya.

Selanjutnya aku melangkah ke ruang pimpinan anak perusahaan, lagi-lagi aku berharap tidak bertemu muka dengan beliau karena aku juga tidak siap ditanya macam-macam pekerjaan yang belakangan ini di desak oleh beliau untuk kuselesaikan (betapa pengecutnya aku😦 ). Dan syukurnya memang aku tidak bertemu beliau.

Akhirnya aku menitip laporan tersebut kepada salah satu manajer yang ada disitu. Aku sudah cukup lama juga berinteraksi dengan Bapak Manajer yang satu ini, dan setauku dia orang yang cukup detail dan ingin tahu segala hal, mungkin itu juga yang membuat karirnya cukup cepat menanjak di perusahaan ini.

Namun sebelnya, si bapak satu ini tidak langsung menandatangi form yang kusodorkan padanya, aku mengomel juga dalam hati “huh.. salah orang” (seharusnya aku meng-appreciate keingintahuannya, bukannya mengomel dalam hati karena ditanya-tanyain😛 ). Dia membolak-balik laporannya dengan santai dan menanyaiku tentang naik atau turunnya penjualan bulan ini dibanding bulan lalu, berapa persentasenya, dll. Awalnya secara umum aku bisa jawab (karena memang aku hanya memperhatikan secara umum saja), namun ketika dia menanyainya lebih detail, aku mulai senyum (malu-malu). Dan dengan jujur kukatakan “Aku tidak ingat pak.”

Ugh.. sungguh memalukan.

Dia tidak melanjutkan menanyaiku lagi, dia melihat-lihat sendiri dan tersenyum. “Kamu nge-print doang ya, sampai tidak inget apa yang kamu buat” katanya sambil tetap membolak-balik laporan yang ada ditangannya seraya sesekali melirik ke arahku (dan ya… pastinya sambil tersenyum menyindir)😦
Aku memang senyum-senyum aja saat di hadapannya, tapi di hatiku yang terdalam aku malu dan merepet pada diriku sendiri, karna tidak mempelajari sebelumnya apa yang kubuat.😦

Melihat mukaku yang sudah senyum-senyum masam, beliau langsung menandatangi form yang kusodorkan dan tidak berkata apa-apa lagi. Aku mengucapkan terima kasih dan segera berlalu dari ruangan itu.

Apa yang kupelajari dari pengalaman ini?

Ada banyak pekerjaan rutin yang kita lakukan, yang terkadang kita kerjakan seperti halnya robot yang sudah diprogram mengerjakan sesuatu.
Robot tidak pernah bisa mempelajari hal baru, dan hanya mengimplementasikan apa yang sudah di program untuknya.
Robot tidak pernah menawarkan solusi dari pikirannya sendiri, karena memang pikirannya adalah sedikit pikiran manusia yang dituangkan kedalam mesin dan diatur sedemikian rupa.
Robot tidak punya kebebasan.
Robot hanya melaksanakan step-by-step pekerjaan yang sudah diperuntukkan baginya, tanpa pernah bisa mengubahnya (kecuali si pembuat robot tersebut mengubah atau meng-upgrade-nya).

Setidaknya dalam hal pembuatan laporan di atas, aku memang sudah seperti robot. Aku menariknya dari database, merapikan formatnya, memindahkan ke excel, nge-print dan menyerahkannya ke tukang jilid. Begitu berulang-ulang setiap awal bulan. Awalnya aku masih rajin mengecek data yang tersaji, lama-lama aku bosan dan merasa itu tidak penting. Padahal kalo laporannya salah-salah ‘kan bisa-bisa para petinggi yang menggunakannya untuk pengambilan keputusan bisa salah juga membuat keputusannya.

Dan yang paling fatal (menurutku sih), aku tidak menguasai apa yang kubuat. Ibarat menyajikan masakan dengan “bumbu jadi”. Aku tidak tau bahan-bahan apa saja yang ada di “bumbu jadi” tersebut. Apa itu baik kesehatan, apa cocok untuk penderita diabetes (misalnya), apa khasiatnya bagi tubuh, dll. Ya mungkin dari pengalaman ini aku bisa lebih lagi memperhatikan apa yang kubuat.

Tidak asal bekerja.

Tapi mengerti apa yang aku sajikan. Jadi ketika pendapatku dimintai tentang sesuatu hal, aku bisa mempertanggungjawabkannya. Jadi, aku tidak perlu lagi menjadi pengecut yang selalu berdoa dalam hati supaya tidak bertemu dengan para petinggi itu hanya karena takut ditanya-tanyain. Sudah sepatutnya aku berani menunjukkan mukaku dan berani bertanggungjawab atas pekerjaan yang kutangani.

Ya.. Aku harus berubah.. Kita harus berubah🙂

Let us work with love, with passion, with heart

13 thoughts on “Jangan Mau Jadi Robot

  1. hmmm….
    tapi menurutku ga semua juga harus tau detail ko gi..:)
    dan apa iya emang tugasmu utk menjelaskan ke dia tentang perkembangan penjualan..
    bukannya emang harusnya ada org yang tanggung jawabnya untuk menganalisis itu..
    Jadi lihat scope kerjaan juga gi..:) kecuali kerjaanmu emang menyediakan hasil analisis dari report bulanan (mis : perubahannya tiap bulan)..:)

    dan setuju dengan anak pak ucan…kadang ada masanya sebaiknya seperti robot..hihihi..:)

  2. @tante win
    nah.. sayangnya si inong alias si big boss pengennya awak mesti bisa gitu pulak tan.
    Mesti bisa ngasih analisis kalo ditanya2😦
    Maccam tak tau lah kau tan perusahaan kita ini, setiap orang diharap jadi super power. kwkwkwk.. spt kalian juga tan, analis sekaligus programmer, sekaligus helpdesk. xixixiixixi

    BTW, ise anak ni pak ucan? *sambil mengingat2 nama tulang Riyanthi*😛

  3. Gitu ya Go..?
    kalau aku baca sekilas,
    hm.. keknya aku kurang sependapat deh…
    kalau data yang diprint beda dengan yang di database, mungkin itu tanggungjawab kita..

    Tapi kalau Laporan itu mengindikasikan apa, memang sebaiknya kita tau.. tapi bukan kewajiban dan ga ada yang berhak mewajibkan kita mengetahui hal itu..
    bukan gitu ya…

    malah harusnya yang ngeprint itu bukan kita.. ya ga Go..😉

    *Go, update alamat blogku ya.. -> http://ezron.jabunta.com (yang ngetrend udah dimatikan)

  4. @ezron
    hehehe. ya sih iban. tapi kenapa ya hal2 seperti itu begitu mempengaruhi penilaian kita di mata atasan?

    Iya tuh, emang harusnya bukan aku yang nge print, tapi gpplan ban, itung2 nambah pengalaman. siapa tu suatu hari buka usaha penerbitan sekaligus poto kopi. wkwkwkw

    ok. ntar di update bos🙂

  5. wahh…dah lama ga singgah ke rumah kk ini…kalo di aku sendiri kan kak, aku harus bisalah bertanggung jawab dengan apa yang aku kerjakan..karna aku yg ngerjain pasti aku ngerti dan tau apa yg aku kerjakan…walopn itu sampai ke detailnya..karna aku sendiri juga suka memperhatikan detail kak…wakakakkakaa…..semangat ya kak…😀

  6. @Wina: hmmm…anak pak ici yang satu ini lah…😀

    @Gloria: Gini, dari semua pekerjaan yang harus kita kerjakan, tak bisa kita jamin kita senang mengerjakannya kan? Pasti ada aja satu atau dua kerjaan yang menyebalkan. Sementara harus tetap dikerjakan. Maka supaya tetap bertanggungjawab, kerjakanlah seperti robot…

  7. @apple
    Bagus dek.. Kalo kau suka detail itu bagus, berarti cocoklah kau jadi IT analis😀
    kalo aku dek emang kurang detil orangnya. Agak bosenan. Tapi mungkin karna itulah Tuhan nempatin aku disini, soalnya kalo disini aku tiap hari ketemu angka2 hahaha

    @riyanthi
    betul juga sih ya mi.. Quote: “Maka supaya tetap bertanggungjawab, kerjakanlah seperti robot…” agree.🙂

  8. hohoho… ternyata qta sama kak, kadang2 kerjaan yang kukerjakan ga ngerti aq apa maksudnya, alasannya karena ga ada waktu yang untuk mempelajarinya kak. dalam hal ini sama kerjaan qta menyediakan report untuk departemen lain. Tapi ditempatku kerja ini, aq ga diminta memang untuk tw tentang report itu, hanya diminta untuk mengambil report2 nya, ga tau juga itu suatu keberuntungan buat ku atau tidak hehehe…🙂

    tapi klo menurut pengalamanku skarang ini, aq setuju dengan kakak2 yang bilang “Maka supaya tetap bertanggungjawab, kerjakanlah seperti robot…”, karena klo ga d kerjakan, bisa2 surat pemecatan udah ada di meja kerja pagi2 pas masuk ruang kantor. hehehe..🙂

Silahkan diberi komentar ya.. Thank you!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s