Hikmah di Balik Banjir

BAGIAN II

Saat aku kembali bekerja, curah hujan sudah mulai berkurang walaupun masih mendung. Perlahan-lahan namun pasti, minggu itu juga air surut. Praise God. Jumat malam, aku kembali ke rumah di semper. Namun ntah kenapa, hari sabtu aku mulai demam. Awalnya aku kira demam biasa, mungkin kelelahan atau kondisi cuaca yang tidak menentu. Ditambah lagi beberapa kali aku kehujanan waktu pulang kerja. Sampai 3 hari demamku  turun naik. Bahkan mataku sampai merah sebelah. Akhirnya aku minta ijin untuk tidak masuk pada hari senin, berharap hari selasa aku udah sembuh. Sebagai info tambahan, waktu itu aku masih bekerja selama 3 bulan. Jadi rasa takut untuk ijin atau sakit masih sangat besar. Rasa bersalah karena tidak ada yang menghandel pekerjaanku begitu kuat untuk menyuruhku kembali bekerja. Namun apa daya, tubuhku tak mau kompromi. Aku tetap saja demam seperti hari-hari sebelumnya, selera makanku menurun dan badanku lemas luar biasa, walaupun aku ingin sekali bekerja. Hahaha.. sok loyal banget ya.. padahal udah tau sakit😀

 

Hari ketiga aku dibawa ke dokter, namun karna dokternya sedang tidak ada, aku diperiksa oleh bidan yang bekerja kepada dokter tersebut. Kakak bidan ini menyarankanku untuk memeriksa darah, “takutnya demam berdarah pak” begitu kata kakak Bidan itu ke bapak. Rumah Sakit Islam-Jakarta Utara yang adalah rumah sakit yang terdekat dengan rumah dan kakak bidan itu menyarankanku untuk cek darah disana. Deg.. jantungku langsung tak tenang begitu disuruh periksa darah. Aku tak terbiasa dengan dokter, tidak terbiasa dengan rumah sakit, tidak terbiasa dengan suntik-suntik (ughh.. i hate that…). Aku lebih suka di rawat sama mama walaupun harus diomelin. Seingatku, tak pernah sekalipun aku masuk rumah sakit dan dirawat oleh dokter.  Aku juga tidak suka rumah sakit. Hawanya menyeramkan bagiku. Ntah kenapa, apa mungkin karna waktu kecil aku pernah tinggal di dekat kamar mayat rumah sakit di Tarutung yang membuat Image rumah sakit begitu jelek dimataku? Ntahlah..

Sepanjang perjalanan, aku udah ketakutan di boncengan bapak. Aku terus berdoa semoga ini hanya demam biasa. Setelah ambil sample darah, aku dan bapak pulang, bapak diminta untuk mengambil hasil test 1 jam kemudian. Sampai di rumah aku merasa udah mulai sehat. Demamku berangsur turun lagi. Dan aku mulai merasa sehat. Setelah cerita-cerita dengan mama soal pemeriksaan darah aku tertidur selama hampir 1 jam. Waktu bangun, bapak sudah mengambil hasil test. Ternyata oh ternyata, aku positif kena penyakit demam berdarah (DBD) karena trombositku sudah turun ke posisi 110ribu dari yang seharusnya >150 ribu.

Aku lemas dan gemetaran karena bapak menyuruhku siap-siap untuk rawat inap di rumah sakit. Aku sedih campur takut. Aku tak ingin di rawat di rumah sakit. Mamaku juga begitu, mamaku ngambek sama bapak karena “memaksaku” untuk dirawat di rumah sakit. Mama orang yang termasuk anti rumah sakit itu berang dan tak mau mengantarku ke rumah sakit, mama bilang sama bapak kalo mama mampu kok merawatku. Aku makin sedih. Tak tahu harus bagaimana. Sesungguhnya aku pun sangat tidak ingin kerumah sakit. Aku lebih suka dirawat sama tangan mamaku sendiri. Tapi apa yang bapak lakukan juga tidak salah. Bapak sadar akan keterbatasan orang non medis. Itu sebabnya bapak tetap bersikukuh kalo aku harus masuk rumah sakit. Akhirnya aku bereskan pakaianku sendiri (sambil nangis bombay tentunya. Hehehe.. ). Sebenernya kalo diinget-inget lucu juga. Aku waktu itu lagi sakit, tapi sempat-sempatnya aku merapikan sendiri baju yang mau kubawa ke RS sambil nangis-nangis😀.

Waktu aku berangkat ke RS, aku lihat mama tetap di kamar. Tidur. Tak tau tidur beneran atau pura-pura tidur atau jangan-jangan sedang nangis. Tapi aku juga gak tau harus gimana, aku turuti kata-kata bapak dan pergi ke RS yaitu RS Pelabuhan Jakarta Utara. Sesampainya di RS aku langsung masuk UGD. Disitu banyak banget orang sakit. Sambil nungguin bapakku ngurusin administrasinya, aku ditinggal sendiri di UGD bersama pasien-pasien lain. Aku masih sedih dan tak berhenti menangis. *Haha.. Cengeng sekalee aku ini 😛 *

Tidak berapa lama bapak balik dari bagian administrasi, aku dibaringkan di tempat tidur orang sakit yang warna hitam itu, dan dokternya menusuk jarum infus di urat nadi pergelangan tanganku. Rasanya… makjanggggggggg.. sakitt kaliiiiiiiiiiii.. dan lagi-lagi aku nangis teriak-teriak sama bapakku yang masih setia menemani. Hiks.. Sedihnya😦

Setelah itu, aku di dudukkan di kursi roda dan kantong infusnya diletakkan di sisi kanan atas kepalaku. Waktu suster mendorongku ke kamarku, rasanya aku malu ngeliat orang-orang. Dalam hati aku bilang “Kayak orang sakit kalipun aku dibuat. Kayak gak bisa jalan aja.. huhh” (Sampe akhirnya aku tau, ternyata aku didudukin di kursi roda, salah satunya supaya infusnya gak susah bawanya :P).

Sorenya, mamaku datang ke RS. Hehe.. ya gak mungkinlah mamaku tega biarin bapak jaga-jagain aku terus. Bapak kan punya banyak kerjaan yang lain juga. Mama nemanin aku ke kamar mandi, membacakan Alkitab untukku, mengajakku berdoa, menyuapiku makan dan memaksaku menelan walaupun perutku terus menolak. “Gimana mau sembuh, kalo gak dipaksa makan. Begitu terus kata mama..”. Tapi bukannya aku gak mau, aku selalu berusaha untuk makan. Berusaha untuk menelan walau susah. Tapi itu memang susah sekali dilakukan kalo sedang dalam kondisi sakit seperti itu. Sampai suatu hari aku memuntahkan makanan karna terlalu kupaksa dan pengen mama senang. Mama kecewa dan membelakangi aku. Aku kembali nangis sambil berusaha menjangkau telepon untuk memanggil suster membereskan tempat tidur yang sudah penuh dengan muntahku. Mama tetap membelakangi aku, sepertinya mama menangis. Mungkin mama terlalu kecewa karna waktu itu trombositku semakin turun dan bukannya naik. Mungkin mama begitu pengen aku cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit. Aku cuma bisa menangis karna berdoa sama Tuhan, semoga mamaku ngerti kalo aku juga ingin cepat sembuh.

Selama di rumah sakit, aku tak bisa tidur nyenyak. Badanku sakit dan demamku naik turun. Tak ada posisi tidur yang enak buatku. AC kamar yang begitu dingin membuatku semakin menggigil. Setiap aku tidur, aku nyenyak sebentar lalu terbangun lagi. Terkadang aku pura-pura tidur supaya mama atau siapapun yang menjagaku tidak terganggu. Aku sampai sempat bertanya dalam hati “Inikah akhir hidupku Tuhan?” karena selama dirumah sakit aku tak merasakan kenyamanan tidur sejenak pun. Aku ingin segera kembali ke rumah.

Hari ketiga aku dirumah sakit, kudengar kabar kalo adekku Satdes juga kena DBD. Oh Tuhan apalagi ini? Kenapa harus berturut-turut seperti ini? Sedangkan aku saja belum sembuh. Tak terbayangkan olehku bagaimana perasaan bapak dan mamaku saat itu. Mereka pasti kelimpungan. Namun mamaku tidak mau adekku dibawa ke rumah sakit. Mamaku tak tahan setiap kali darahku diambil sebanyak 2 botol kecil setiap pagi dan sore hari. Mamaku meyakinkan bapakku kalau adekku akan sembuh dalam perawatan mama. Dan ajaib, adekku sembuh tanpa harus dibawa ke rumah sakit. Mamaku bilang, mama juga ada belajar dari pengalaman merawatku dan yakin adek bisa sembuh tanpa harus ditangani oelh dokter.

Waktu adek ketauan sakit DBD, mama dan bapak gantian menjagaku. Bapak yang nemanin aku di rumah sakit. Bapak/mama tidur di lantai di samping tempat tidurku (tentunya dikasih alas untuk tidur). Saking seringnya terbangun, aku suka melihat wajah bapak dan mama yang kelelahan menjagaku dan adek. Belum lagi mama harus mengurus rumah yang masih berantakan karna banjir itu. Aku merasa bersalah sekali karna harus sakit pada saat semua sedang kelelahan dan berantakan. Belum lagi bapak juga banyak kerjaan yang menanti.

Hal yang lebih sedih lagi, ketika mama berulangtahun pada tanggal 13 februari, aku dan adekku terpaksa harus “menghadiahkan” kerepotan mengurus kami yang terkulai lemah karna sakit di rumah sakit. Ulang tahun yang biasanya kami lalui dengan cinta dan keceriaan harus berganti sakit dan kesedihan. Maafkan kami mama L Itu sebabnya sampai sekarang aku tak pernah lupa hari aku sakit itu. Karna salah satu tanggal ketika aku dirawat di RS itu adalah tanggal ultah mamaku tersayang.

Apa yang aku pelajari dari saat pertama kali aku dirawat di RS itu?

  1. Kesehatan itu mahal
    Kesehatan itu mahal kawan. Aku sudah merasakannya. Bukan hanya soal uang, tapi juga waktu, juga rasa sakit. Oh kawan, sungguh.. aku ingin selalu sehat.. itu sebabnya sekarang aku selalu mengusahakan gaya hidup sehat. Rajin konsumsi buah dan sayur. Tidak selalu berhasil sih. Tapi setidaknya semakin hari aku semakin mengerti mahalnya arti sehat itu buatku.
  2. Orangtua ku adalah orang tua yang luar biasa
    Dua insan dengan dua cara berpikir yang berbeda memang sempat membuatku bingung memilih yang mana. Jika pun pada akhirnya aku mengikut keputusan bapakku, bukan berarti aku tak setuju dengan mamaku. Aku tetap melakukan dan memakan semua yang disodorkan mama kemulutku walaupun terkadang aku tak sanggup menelannya. Mereka berdua adalah orangtuaku yang luar biasa. Perjuangan mereka mengajarkanku untuk lebih lagi membahagiakan mereka.. I love mom.. I love you Dad 🙂
  3. Support dari saudara dan sahabat akan sangat membantu membangkitkan gairah hidupmu yang sempat redup.
    Tawa canda dari adekku, tanteku, om, juga godaan dan ejekan lucu dari sahabat-sahabatku anggota AntiQ yang disuatu hari membuat gempar kamarku di RS, membuatku kembali tersenyum dan mengingatkanku betapa aku masih diingat dan dicintai. Melihat wajah kalian semua membuat semangatku untuk sembuh meningkat. Aku ingin segera kembali sehat dan berkumpul bersama lagi.  I love you sist, bro, aunty, all my big family and AntiQ.
  4. Jangan “Sok Loyal” waktu sakit.. Love your self too🙂
    Hahaha.. inget ini jadi lucu deh. Waktu itu aku udah 4 hari di RS. Trus karna kondisi ku udah baikan, aku pengen cepet-cepet balik kerja. Sampai-sampai ada seorang temen mama yang kebetulan punya usaha kecil garmen bilang gini sama mama “seandainya pegawai2ku juga loyal seperti dia ini. Udah sakit masih aja mikirin kerjaan”. Hahaha. Tau deh kenapa aku segitunya. Apa karna masih baru ya?😉 Soalnya kalo sekarang sakit, aku gak mau terlalu porsir lagi tuh mikirin kerjaan.
  5. Selalu ada cara Tuhan menunjukkan berkat dan kebesarannya.
    Selalu ada Tuhan berkat di balik musibah. Seperti misalnya gara2 gak kerja 2 minggu lebih, tak terasa gajiku full masuk kantong. Jadilah aku beli HP baru sesudah sembuh. Hahaha. Niat banget ya.. Tapi sebenernya sih kalo dibilang sakit kayak gitu lagi, trus dikasih duit 3 kali lipatnya, aku tetap memilih kesehatan😀
  6. Doa adalah sumber kekuatan yang terutama
    Lewat doa-doa yang dipanjatkan, Tuhan pasti dengar setiap keluhan, rasa sakit dan kesedihan kita. Doa itu sumber kekuatan utama untuk melalui segala tantangan, sakit penyakit.
  7. Hargai hidupmu dan hari-hari mu
    Puji Tuhan jika hari ini aku masih hidup, itu artinya masih ada maksud Tuhan untuk dikerjakan di dunia ini. Ajari aku Tuhan untuk lebih menghargai hari-hari dan hidupku yang indah ini.

Ini adalah kejadian 3 tahun lalu dan masih terngiang dengan jelas diingatanku. Aku tuliskan sebagai dokumentasi untukku dan sharing kepada siapa saja. Sebagai pelajaran berguna bagiku dan yang baca. Semoga bermanfaat walaupun terlalu panjang.😀

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, setiap peristiwa pasti mengandung makna. Tergantung bagaimana kita menyikapinya..

5 thoughts on “Hikmah di Balik Banjir

  1. “Rasa bersalah karena tidak ada yang menghandel pekerjaanku begitu kuat untuk menyuruhku kembali bekerja”

    Perasaan macam inilah yang kadang membuatku tersiksa. Dulu. Sekarang kutak mau lagi. Hanya menyiksa badan.

    Halo apa kabar ito? Lama tak bersua.

Silahkan diberi komentar ya.. Thank you!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s