Banjir Jakarta -2007-

Aku sedang ingin bercerita saja. Bercerita tentang kisah yang berkesan kepadaku di masa lalu. Sebagai catatan buatku kelak, siapa tau otak ini sudah mulai sulit untuk mengingat dan yang tinggal hanyalah tulisan.. 🙂

BAGIAN I

Ini adalah sebuah kisah di masa lalu yang mengajarkanku betapa pentingnya arti kesehatan buatku, arti cinta dan arti hidupku.

Februari 2007

Sudah lebih satu minggu banjir menggenangi Jakarta. Tak terkecuali rumah dinas Bapak-ku di daerah Semper juga dapat “bagian”. Syukurnya rumah itu berlantai dua, sehingga lantai 2 bisa digunakan untuk tempat tinggal. Sedangkan lantai satu sudah tergenang air setinggi betis orang dewasa. Di depan rumah, jangan di tanya. Lapangan yang biasanya digunakan orang untuk bermain bola dan parkir kini sudah seperti danau buatan.

Aku tak menyaksikan secara langsung proses naiknya air tersebut, karena saat itu aku sedang bekerja dan pada hari senin-jumat tinggal di Condet bersama Inangudaku (sebutan untuk tante/adik mamaku yang sudah menikah). Aku tau banjir sudah setinggi itu dari bapak dan mama serta dari berita yang tak bosan-bosannya melaporkan keadaan terbaru banjir Jakarta.

Banjir tahun 2007 memang banjir yang cukup parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hampir seminggu perekonomian dan kegiatan di jakarta yang biasanya begitu sibuk menjadi macet, seperti keadaan jalannya yang dimana-mana juga macet. Condet memang tidak banjir, tapi bagaimanapun aku menjadi gelisah ketika tau bahwa air telah masuk ke rumah di Semper, walaupun setiap aku menelpon Bapak dan mama, mereka tetap tenang dan berkata semua baik-baik saja. Hari jumat aku niatkan pulang ke rumah, tapi keadaan jalanan yang macet parah, akhirnya membuatku mengurungkan niat untuk datang hari sabtu saja.

Hari sabtu akhirnya aku bersama dengan tanteku pulang ke Semper dengan perjuangan penuh selama hampir 4 jam di perjalanan. Padahal normalnya lama perjalanan yang biasanya ditempuh hanya 1 atau 1.5 jam. Apalagi penyebabnya kalo bukan karena banjir yang menghadang dan macet yang mengular? Namun bagaimanapun, aku dan tante tetap bersemangat untuk bisa bertemu dengan Bapak, Mama dan adek-ku. Sampai di semper, lautan manusia tumpah ruah di jalan. Persediaan makanan yang menipis, ditambah angkutan yang narik sedikit, jadilan orang-orang berjalan kaki kesana-kemari. Ada yang bawa galon, ada yang jalan tanpa arah, dan berbagai aktifitas lain yang tidak bisa kuingat semua. Dalam hati aku bertanya-tanya, bagaimana nasib bapak dan mama? Semakin tak sabar hati ini ingin berjumpa.

Di persimpangan jalan menuju rumah, sekitar 100 meter dari rumah, aku lihat semua gang dipenuhi air. Aku dan tante bingung harus bagaimana ke rumah, sementara tangan kami penuh di dengan makanan yang dimasak Inangudaku khusus untuk keluarga di Semper. Syukurlah tidak berapa lama kemudian, ada gerobak2 yang dimanfaatkan penduduk sekitar untuk menolong orang yang tidak ingin basah-basahan menyeberangi “danau” tersebut ke tujuan ( sekalian mencari duit juga sih intinya :P. Memang yang namanya rejeki dalam keadaan apapun, ada saja yang mendapatkannya). Melihat dan membandingkan keadaan sebelum dan saat banjir terjadi, aku hanya bisa melongo dan sedih dengan keadaan itu.

Sesampainya di rumah, aku lihat rumah sudah seperti kolam ikan yang luas (Kolam ikan kecil-kecil :P). Aku langsung bergegas ke lantai 2 dan menemui bapak, mama dan adekku.Syukurlah orangtuaku dan adekku baik-baik saja, mereka tetap ceria dan seperti tidak ada kejadian apa2. Waktu itu memang Bapak, mama dan adek sudah ditawarkan inanguda supaya untuk sementara tinggal di Condet aja. Tapi bapak tidak mau. Dia tetap ingin melihat keadaan jemaatnya dan bersama-sama merasakan dan melewati masa-masa suram itu. Salut untuk Bapak dan mama untuk pelayanannya. Padahal aku sempat kuatir, kalau-kalau mereka terserang penyakit karena kelamaan tinggal ditengah-tengah banjir dan air kotor itu. Tapi penyertaan Tuhan selalu dan selalu ada. Bapak, mama dan adekku senantiasa sehat walaupun setiap hari selama satu minggu harus menginjak air kotor, dan tinggal di tempat yang lembab. Akhirnya sampai hari senin aku memutuskan untuk tetap tinggal di rumah dan minta ijin dari kantor. Untuk kemudian kembali bekerja di hari selasa.

3 thoughts on “Banjir Jakarta -2007-

  1. wah, dekat kostanku itu kak…
    tapi untunglah sampe saat ini lokasi tinggalku belum pernah kebanjiran.
    *pdahal ngarep, siapa tau bisa jadi gak ngantor.

    hahahaha…

Silahkan diberi komentar ya.. Thank you!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s