Sebuah Kisah Bersama Bapak Tukang Kebun..

Lagi-lagi kali ini kisah yang aku angkat adalah memoar. Sebuah kisah di masa lalu, yang sulit untuk kulupakan. Dan (Lagi-lagi) peristiwa ini aku alami di Del, kampusku dulu. Kampus sejuta kenangan yang mengajariku banyak hal. Termasuk kisah ini..

Di balik kulitnya yang hitam karena terbakar matahari terdapat wajah yang ramah, bersahaja, tenang dan setiap bertemu dengan mahasiswa-mahasiswi yang terkadang tak menghiraukan keberadaannya dia tersenyum.
Ya aku masih ingat senyum ramah itu saban kali bertemu di wilayah kampus.
Beliau adalah salah satu tukang kebun kami. Sudah paruh baya. Mungkin lebih muda sedikit dari bapakku.
Aku lupa marganya (cueknya aku), ntah Na-70, atau Situmorang? atau yang lain.. Aku tak ingat persis.
Tapi sampai sekarang kalo wajahnya ditunjukkan padaku, aku pasti kenal.

Satu hari menjelang ujian, aku duduk2 di Open Theater (OT).
Kali ini bukan sekedar untuk duduk santai-santai seperti yang biasa aku lakukan di sore hari.

Kali ini aku belajar.
Ya aku belajar untuk persiapan ujian..
Aku sengaja memilih tempat itu, karena disitu suasananya tenang, damai. Jauh dari hiruk pikuk. Suasana yang cukup nyaman untuk belajar (juga tidur πŸ™‚ )

Dari jarak yang tidak begitu jauh, aku lihat sosok Bapak tukang kebun ini sedang serius membersihkan rumput. Menata dan memangkas rumput2 di sekitar OT itu sedemikian apik dan rapi.
Dia terlihat sangat menikmati pekerjaannya.
Sesekali aku melihat apa yang beliau lakukan, dan kemudian kembali lagi serius menekuni buku dan slide yang ada di hadapanku.

Saking seriusnya (hallah, sok serius πŸ˜› ), aku tak sadar tempat beliau “menggarap” sudah semakin dekat denganku. Akhirnya beliau menanyakan aku sedang ngapain.

Aku bilang “sedang belajar pak”.

Akhirnya untuk menghormati beliau, aku menutup buku sejenak. Lagian sudah hampir jam 12 siang. Sebentar lagi akan istirahat dan makan siang. Akhirnya kami pun berbincang-bincang.
Beliau nanya-nanya, bagaimana kuliah di Del.
Dengan sangat antusias aku jawab, kalo aku senang sekali kuliah disini, bla..bla..bla.Trus nanya uang kuliah berapa satu semester, dan lain sebagainya.

Beliau bercerita, kalo dia pengen sekali ada anaknya yang kuliah di Del.
Tapi karena alasan biaya, si bapak satu ini sepertinya agak sedikit mengurungkan niatnya.
Aku hanya bisa kasih support lewat kata2 penyemangat. Nyaranin supaya adek itu (anaknya) rajin-rajin aja belajar. Kalo nanti nya lulus, aku yakin pasti adalah keringanan biaya dari Yayasan.
Apalagi kalo anaknya sungguh-sungguh.

Yah.. aku hanya mampu mensupport sebatas itu. Tak lebih..
Beliau tersenyum. Mungkin sambil berpikir.
Aku tak tau apa yang beliau pikirkan..
Karna aku memang tak punya kemampuan membaca pikiran orang lain.

Di kejauhan aku lihat teman-temanku sudah mulai lalu lalang ke Asrama. Aku lihat jam, ternyata sudah jam 12 kurang. Waktunya makan siang.
Akhirnya aku pun pamit pada beliau. Aku mau makan siang dulu.
Beliau pun beranjak dari tempatnya, mau makan siang juga.

Sepanjang perjalanan, permbicaraan singkat kami terngiang di otakku.
Aku berpikir, ada orang yang berusaha begitu keras. Bekerja siang malam menghidupi keluarganya.
Membanting tulang dan menepis semua rasa sakit.
Tapi tetap berkekurangan.
Namun ada orang yang kerjanya hongkang2 kaki. Duduk santai dan mencari uang dengan cara yang kotor, tetap saja hidup makmur.
Dimana letak keadilan itu??
Kalo tidak salah Nabi Yeremia pernah menanyakan perihal itu pada Tuhan (Yeremia 12:1).
Tuhan, kadang jalanMU jauh sekali dari jangkauan pikiranku yang sempit ini.

Waktu demi waktu berlalu, aku tak pernah lagi bercakap-cakap dengan beliau.
Kalopun bertemu di jalan hanya sekedar senyum dan sapa-sapaan saja.

Masing-masing orang memang punya kesibukan tugas dan pekerjaan masing-masing.
Itu makanya sadar gak sadar aku emang sering kali mengabaikan kehadiran Tukang Kebun, Pihak maintenance, Cleaning Service, Satpam, Tukang Kantin.
Aku hampir tak pernah bercakap-cakap dengan mereka.
Paling hanya tersenyum (Syukurlah aku masih ingat untuk tersenyum. Karna sepertinya sekarang ini sudah banyak orang yang lupa cara tersenyum).

BTW, kembali ke kisah si Bapak Tukang Kebun (ntah udah kubawa kemana-mana cerita ini πŸ˜€ ).

Suatu hari, dipagi hari nan cerah (halahh..),beberapa hari sebelum wisuda, aku memutuskan untuk memberikan baju-bajuku yang jarang aku pakai namun masih sangat layak pakai dan sepasang sepatu olah ragaku ke sodara-sodaraku di kampung.
Lagian kalo aku bawa semua, pasti beratnya sudah melebihi kapasitas bagasi di pesawat.
Semua yang bisa aku bagi baik sama adek kelas atau sama sodara, aku bagi aja.
Nah.. dengan tas punggung layaknya mo naik gunung, pagi-pagi sekitar jam 8an berangkatlah aku ke kampung πŸ™‚
Pas di depan jalan setapak di depan kantin, aku bertemu lagi dengan si bapak tukang kebun.
Aku udah sempat melewati beliau ketika tiba-tiba terlintas di otakku ngasih sepatu olah ragaku ke anaknya (apalagi sodara-sodaraku di kampung paling besar masih SMP, mana muat sepatu ini sama mereka).
Agak ragu-ragu, aku sapa beliau (Beliau lagi asik membersihkan rumput di sekitar got).

“Pak.. kalo tidak salah bapak punya anak yang masih SMU kan?”
Dengan ramah si Bapak menjawab “Iya. Ada, kelas 2 dek”
Gak berpikir panjang, aku keluarkan sepatu olah ragaku dari tas. Aku kasih ke tangan bapak itu.
Beliau heran plus senang.
“Buat anak bapak” kataku.
“Aduh.. makasih yah dek” mata beliau berbinar senang.
Aku ikut senang, tak menyangka pemberian kecil seperti itu bisa membuatnya berbinar bahagia.
“Sama-sama pak, maaf saya cuma bisa kasih itu pak sebelum saya pergi. Hanya sepatu bekas”
Kataku santun.
“Tidak apa-apa dek. Ini saja saya sudah senang, makasih yah..”

Terharu.. Ya, itu perasaanku.
Senang campur haru.

Padahal sepatu itu sudah sepatuku dari jaman kelas 3 SMU.
Tapi memang masih cukup bagus karna selama di kampus jarang sekali aku pakai (ukurannya agak kegedean 1 nomor sih.. πŸ˜€ ). Dan memang bahan sepatunya bagus. Hanya warnanya saja yang sudah sedikit pudar

Sepanjang jalan, aku tersenyum.
Berbuat baik, walaupun sangat kecil itu punya kebahagiaan tersendiri di hati.

Pendek cerita: 2 hari sebelum wisuda.
Orang tuaku nelp dari Jkt.
Bilang kalo mama gak bisa ikut. Hanya bapak yang bisa hadir.
Sedih sekali memang. Di hari yang sangat bersejarah bagiku ini mamaku gak datang.
Kecewa. Tapi ya sudahlah.. Ada alasan tersendiri kenapa mama gak bisa datang.
Aku tak berani menuntut..
Tapi mama gak lupa ngabsenin semua kebutuhanku (Tak apalah, aku sudah cukup senang mendengar suara dan doa-mu ma!).

Dan tak ketinggalan mama bilang, “Jangan lupa pake kalung yah.. Itu kado dari mama”.
Udah mo kubilang nean, tak butuh aku itu ma’! aku lebih butuh kehadiran mama’ (Cieh.. kek di pilem-pilem itu πŸ˜€ ).
“Oia anting juga, itu kado dari salah satu jemaat bapak” Kata mama (loh??)

Akhirnya penasaran aku tanya, antingnya dari siapa? Mama bilang waktu mama mo beli kalungku, ada jemaat gereja kami yang lihat. Trus setelah cerita-cerita, dibeliin lah anting itu untukmu.
” Itu rejekimu” Kata mama.
Aku tanya kapan mama beli? “2 hari yang lalu”
What??? Ajaib!!
Suatu “kebetulan” dengan “peristiwa sepatu” itu.
Seandainya aku gak kasih sepatu itu, apa akan ada kejadian serupa??
Ntahlah…

Disitulah aku percaya, ketika kita memberi dengan segala ketulusan hati, rejeki lebih bisa Tuhan tambahkan pada kita. Kapan saja, kalo dia mau..
Mungkin tidak langsung. Tapi bisa lewat keluarga kita.
But.. aku sama sekali gak ada niat memberi sesuatu supaya Tuhan beri loh πŸ™‚
Tuhan kasih lebih ya syukur, gak Tuhan kasih ya GPP πŸ™‚
Aku hanya ingin menceritakan betapa hal-hal yang sering kita anggap sepele ternyata bisa menjadi saksi nyata keajaiban pekerjaan tangan Tuhan dalam diri kita dan orang-orang di sekeliling kita.

Anyway, waktu aku wisuda, taukah kalian salah satu peristiwa yang bikin aku terharu?
Ada orang yang mencari-cari aku. Sambil melongok kesana mencari-cari.

Si Bapak Tukang Kebun.

Dari jauh, aku lihat beliau memperhatikan setiap wisudawati yang lewat. Dan waktu aku sedang disalamin orang-orang, dengan semangat beliau datang menghampiriaku. Dan ngucapin Selamat untukku.

Lagi-lagi aku terharu..
Kenapa bisa-bisanya si bapak ini langsung mendatangi aku begitu melihatku??
Ah.. Malu aku..

Tuhan, terima kasih karna KAU ajari aku untuk menghargai orang lain.
Terima Kasih jika Tuhan ijinkan aku untuk belajar mengasihi dengan tulus. Sehingga aku tak sadar bahwa aku juga dikasihi.

Terima Kasih bapak tukang kebun, Bapak mengajari aku untuk lebih memperhatikan orang-orang kecil dan susah. Aku yakin bapak tak sadar bahwa bapak telah membuatku merasa berharga..

21 thoughts on “Sebuah Kisah Bersama Bapak Tukang Kebun..

  1. that’s really a good story…..memberi inspirasi pada saya.
    Saya jadi semakin kagum saja kepadamu πŸ™‚
    Kalau saja saya sudah mengenalmu sejak lama…saya pasti bakalan sudah……you know what i mean…:)
    Saya sangat setuju bahwa banyak kejadian atau berkat yang kita alami tanpa kita sadari adalah dampak dari apa yang telah kita perbuat sebelumnya.
    Btw saya ada pertanyaan buatmu..
    Apakah kamu percaya akan kalimat yang menyatakan bahwa hidup ini seperti roda? Suatu waktu kita di atas dan di lain waktu kita di bawah….
    Apa pendapatmu ttg itu?

  2. @someone
    What?? Kagum.. Banyak orang yang jauh lebih baik dari aku pren.. Jadi tak usahlah dikaw puji2 aku, aku blm ada apa2nya πŸ™‚
    Tapi terima kasihlah atas pujiannya. Walopun bukan itu yang aku minta. Aku hanya ingin agar kita mau memperhatikan orang-orang kecil lewat perbuatan nyata. Walopun itu kecil sekali..

    Soal kalimat yang menyatakan “Hidup itu seperti roda yang berputar”, Ya aku percaya.
    Hidup emang ada suka dukanya, ada susah senangnya, ada jatuh bangunnya. Ya ibarat roda itu..

    Thx for reading πŸ™‚

  3. Sepatumu yang warna hitam itu ya, Go? Hi..hi..hi..Kalau emang yang itu, aku masih ingat bentuknya, tapi mereknya aku lupa.

    Bapak tukang kebunnya, yang badan nya sedikit gemuk atau yang mukanya belum terlalu tua ya? [enggak jelas πŸ˜‰ ] kalau emang iya, brarti bapak yang sering aku sapa juga.

    Aduh, jadi kangen juga sama bapak & mama mu dan si epi yang dulu masih kecil, he..he..pasti sekarang dia udah gede ya.

    [ketiga paragraf ini nggak ada yang nyambung, pemirsa]

    πŸ˜€

  4. @Riyanthi
    Hahaha.. iya.. betul.. ingat aja kau mi. Gak percuma kita satu “gank” waktu SMU πŸ˜€

    Iya mi, yang badannya agak gemuk-gemuk, belum terlalu tua πŸ˜€

    halah.. apa pulak lah kaitannya ini. Epi dah gede. Udh SMU dia mi πŸ˜€

  5. iban…
    tulisanmu bagus dan enak dibaca.. sampai ingat masa masa lalu.. apakah saya pernah melakukan kebaikan yang kamu lakukan..? sama siapa ya….? (masih berpikir)

    Kamu baik dan cantik apalagi hatimu…

  6. I sing for joy at the work of Your hands
    Forever I’ll love you
    Forever I’ll stand
    Nothing compares to the promise I have in You

    glorialimbong:
    Hahahaha.. ini mah “james” yang menyamar πŸ˜€
    Monce!!!!! πŸ˜›

  7. ngeri kali ah ceritanya…. kek dipilim pilim itu… hiks.. hiks…

    Aku sih dulu lumayan sering nyapa2 mereka.. mau kadang nimbrung cerita cerita.. tapi maklumlah ‘akka bawa’ yang diceritain malah yang aneh aneh.. tahapahapa…. hahaha….

    btb, nice story darling.. keep it up…. (manungguli ate2 poang….) :((

  8. mereka sama dengan kita, apa yang mereka makan, kita juga makan (halah…ngomong apa to yak)..
    itu kisah 2 tahun silam, and sekarang baru diangkat..pasti sangat berharga bgt negh.. πŸ˜‰

  9. Aduh..kak Gloria sungguh puitis kali alur ceritanya..
    It is a nice story..

    memang benar bahwa “hal-hal yang sering kita anggap sepele ternyata bisa menjadi saksi nyata keajaiban pekerjaan tangan Tuhan dalam diri kita dan orang-orang di sekeliling kita.”

    Titip salam ya dari adek-adek mu dari PIDEL……

  10. @ pardosa
    Thank u for reading ito.

    Semoga menjadi inspirasi dan berkat juga bagimu..

    @Okta Sihotang
    iya dek.. pelajaran penting untukku.
    Dan aku harap juga menjadi pelajaran penting bagi orang lain πŸ™‚

    @ Jontri Pakpahan
    Makasih dek..
    Salam balik buat semua adek2ku di PIDel sana πŸ˜‰

  11. pengalaman yg sederhana tapi indah πŸ™‚

    Kata seorang teman, kehidupan kristen itu seperti obat nyamuk bakar yg spiral (masih ingat? πŸ™‚ ) dia berjalan berputar (jatuh bangun) tapi tidak pernah bertemu di titik yg sama untuk kedua kali πŸ™‚

    .ds

  12. siapa y? pokoknya teman lah πŸ™‚

    ada tiga kepercayaan ttg analogi hidup:
    1. hidup seperti lingkaran
    2. seperti garis lurus
    3. seperti spiral (lupa istilah kerennya)

    nah katanya model yg ketiga lebih cocok untuk menggambarkan kehidupan versi iman kristen πŸ™‚

    .ds

  13. @Daniel Simanjuntak
    Hm.. aku pernah baca/dengar ttg analogi ketiga yang ito paparin di atas dari seorang pendeta.
    Hanya aku lupa siapa..

    Mm.. Punya referensi bacaannya to?

  14. Pirrrr…………..menggugah hti dan perasaan kisahmu ini Pir…
    Emanglah PiriQ ini na burjuan…………
    Keep doing good things ya PiriQ hasian.. πŸ™‚


    Gloria:

    hehehhe… Thnks Pir dah mau capek2 baca πŸ™‚

  15. “Hidup ini hanyalah sebuah perjalanan waktu yang akan berhenti pada suatu keadaan. Jadikanlah hidup ini bermanfaat”.

    Alangkah indahnya jika kita jadi sandaran orang lain, menjadi garam dan lilin. Kita diciptakan agar bisa jadi saluran berkat bagi org lain, kita diberi kesempatan jadi Pemimpin agar kita jadi juru bayar bagi bawahan,namun bawahan jangan mengharap kepada Pempimpin tapi mengharaplah kepada Tuhan.

    http://www.lintongnababan.wordpress.com

  16. Pernahkah saat kau duduk santai dan meknimati hari, dalam seketika kau ingin berbuat sesuatu untuk orang yang kau sayangi? Itu adalah TUHAN yang sedang berbicara denganmu melalui roh kudus-Nya.

    Pernahkah saat kau sedang sedih, kecewa tetapi tidak ada org yang disekitarmu yang dapat kau curhati? Itu lah saat dimana TUHAN menginginkanmu untuk berbicara pada-Nya.

    Pernahkah saat kau memikirkan seseorang yang sudah lama tak kau temui, dan seketika itu juga kau bertemu dengannya atau menerima telp darinya? Itu adalah kuasa TUhan. Tidak ada namanya kebetulan

    Pernahkah kau menerima sesuatu yang tak kau harapkan, yang tak sanggup kau dapatkan, yang kau ingin kan ? Itu adalah Tuhan yang mengetahui keinginan/suara hatimu.

    Pernahkah kau berada dalam situasi yang buntu, tidak tahu cara memperbaikinya, bagaimana luka itu hilang atau sembuh, kau harus sadari bahwa itu adalah saat dimana Tuhan ingin memberikan cobaan untuk mu, sehingga kau memperoleh hari yang lebih cerah.

Silahkan diberi komentar ya.. Thank you!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s