Bersabar dalam Penantian

Hari ini saya berkutat dengan pekerjaan yang itu-itu lagi.
Membosankan memang, dan pada akhirnya “sukses” membuat saya mengantuk.
Rasa kantuk ini beberapa bulan belakangan memang sangat mengganggu produktivitas saya. Jika kemaren-kemaren karena saya mesti lembur lagi untuk mempersiapkan diri untuk ujian, mengerjakan tugas, sekarang ini saya mengantuk karena semangat kerja saya menurun drastis.

Tidak ada passion yang membuat saya begitu menggebu-gebu. Membuat saya begitu ingin tau dan begitu puas ketika berhasil menyelesaikan tugas saya. Seperti dulu, ketika saya berhasil menemukan titik permasalahan user saya. Ketika saya berhasil membantu mereka untuk kembali tersenyum melihat komputernya yang telah beroperasi secara normal sehingga bisa kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tenang dan hati senang.
Saya hampir lupa bagaimana perasaan saya ketika saya menemukan sumber permasalahan di data yang saya tangani. Begitu bahagia ketika menemukan penyelesaian masalah dan memperbaiki sendiri data-data yang kurang akurat. Begitu bersukacita ketika berhasil membuat laporan tanpa cacat.
Itu perasaan saya 2 tahun lalu.
Ketika semua masih tampak baru dan begitu menantang. Saya begitu bergairah dan bersemangat dalam bekerja.

Sekarang, ketika saya diperhadapkan dengan komplain user saya yang itu itu lagi setiap tahunnya, saya mulai sulit untuk tersenyum. Terkadang saya kesal, karena saya merasa seharus nya mereka lebih pintar dibandingkan beberapa tahun lalu.
Mereka seharusnya mengerti apa yang harus dilakukan jika menemukan kesalahan yang itu2 lagi. Bukannya menanyakan kepada saya berulang-ulang.
Tapi, ketika saya kembali “normal”, saya sadari, mereka mungkin kurang mengerti karena mereka tidak fokus disitu.
Bagi mereka teknologi jauh lebih sulit mereka taklukkan ketimbang penjualan produk yang bagi saya justru sebaliknya.

Yah.. Esensi pekerjaan ternyata bisa terkikis oleh waktu.
Rutinitas yang monoton dan hanya beriak-riak kecil, membuat saya hampir tertidur tenang setiap hari. Saya tau, bekerja itu harus dengan iklas dan hati yang gembira. Saya tau, bahwa saya harus bisa menyenangkan hati Tuhan saya dengan apa yang saya kerjakan. Tapi memang tidak selalu mudah, “saya tau” belum tentu “saya bisa” untuk selalu mensyukuri segala yang saya punya. Tapi setiap kali saya mengingatkan diri saya untuk bersyukur, hampir secara bersamaan ada suara2 dalam pikiran saya yang mendorong saya untuk menggerutu. Oh my Lord, Please forgive me.

Sudah tiga tahun lebih saya bekerja di perusahaan yang sama, apa memang sudah waktunya saya mencoba sesuatu yang baru? Saya pun belum tau.
Masih bimbang dan ragu untuk melangkah.
Disatu pihak saya masih ingin menunjukkan kalau saya bisa melakukan yang lebih dari apa yang sudah saya lakukan 3 tahun ini untuk perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Tapi di sisi lain, saya tidak tau bagaimana cara keluar dari rutinitas yang melingkupi dan start something new and have value add.

Setelah kuingat-ingat, renungan tadi pagi begitu cocok untukku.
Aku tidak boleh terlelap dalam penantian. Tanpa melakukan apapun.
Aku harus tetap bersemangat, berbuat sesuai yang bernilai dan tetap terjaga selama dalam penantian. Ini bukan hanya berlaku dalam penantian Kristus datang untuk kedua kalinya saja. Tapi juga dalam penantian pekerjaan atau tanggung jawab yang baru.
Ntah kapan.
Yang penting aku bersabar dan tetap berusaha dalam penantian ini :)

Have you ever face the same problem with me?

11 tanggapan untuk posting ini.

  1. Posted by k!n6 on Februari 18, 2010 at 11:13 am

    yup…tetap semangat dalam penantian mu
    hehehehe
    do your best :D

    Gloria:
    Makasih ya mu. I’ll always trying to do my best..

  2. mengisi penantian, lebih berarti..

    sekedar berbagi pengalaman nih, ya.
    Dulu jam kerja ku juga kerap diisi dengan request dari pegawai lain (di perusahaan yang sama) untuk membantu mereka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Dan satu hal, mengajarkan ilmu kita buat mereka, tidak membuat kita kehilangan apa-apa. Justru pekerjaan semakin ringan.

    Jadi ketika (dulu) mereka menghadapi masalah, abang coba terangkan akar permasalahannya, bagaimana solusi yang tepat, dan di kemudian hari mereka pun jadi pintar semua :D

    Kadang kita terjebak dengan pendefinisian kata-kata, benarkah “bosan” yang kau rasa karena tidak ada tantangan? atau bosan karena itu-itu saja?
    Itu dua hal yang berbeda lho. Tantangan baru tidak akan muncul jika permasalahan yang muncul, adalah permasalahan yang sama.. lagi, dan lagi. Jadi bereskan masalah yang itu-itu saja, supaya muncul masalah baru.

    Lagian, yang namanya kerja, gak ada habisnya ;-)

  3. @nich
    Betul juga sih bang.
    Agak susah aku mendefenisikannya.
    Tapi setidaknya penjelasan abang untuk membedakan antara “kurang tantangan” dan “itu2 saja” membuatku berpikir untuk mencari akar masalahnya.

    Thanks for sharing with me.
    Hihi.. jadi malu :P

  4. [...] setelah sabar dalam penantian (sebenarnya emang gak ditungguin sih). Tahun lalu, terjadilah hal yang diinginkan itu.. Bukti [...]

  5. Terus bawa dalam doa :) dan keep the spirit on fire
    Jika waktunya tiba tentu akan ditunjukkan yg paling baik.
    Soal pekerjaan.. ah baru tiga tahun ;)

    @kak eka

    kekeke.. iya sih kak..
    Akh.. baru 3 tahun. Cemen kali pun aku ini :P :P

  6. kesabaran akan membuahkan hasil

  7. tetap sabar karena semua pasti indah pada waktunya…… salam kenal

  8. @Depz
    Amin.. Salam kenal Depz

    @richo
    Amin juga.. Salam kenal Richo

  9. Hai say,
    menurutku sih kalau mau mencoba keluar mencari yg lebih baik memang harus sesegera mungkin. Karena kalau sudah terlanjur nyaman di satu tempat nanti lama2 jadi takut utk keluar, ditambah lagi umur kan jalan terus yaa… Jgn kayak saya, yg dulu ragu2 mo keluar, akhirnya mandek di sini.. :D

  10. @kak zee

    sepertinya rasa takut itu muncul juga di aku kak.
    Tapi aku akan berusaha keluar dari zona aman ini. mmm…
    lets wait n see.. :P :P

  11. Posted by pindah on April 4, 2010 at 8:53 pm

    Lama saya tak berkunjung ke blog ini. Dan thread menggodaku untuk sedikit berkomentar. Boleh kan?

    Kurang lebih apa yang aku rasakan sekarang juga sama.

    Saya sudah lebih kurang 2 tahun di-t4 ini. Menurutku itu waktu/fase yang cukup lama dibanding yang aku jalani selama ini. Nyaman memang. Sepertinya saya sdh bisa menebak skenario pekerjaan, tentnag kesuliatan teknisnya dan cara saya mengatasi masalah hari ini.

    Tapi yang ini malah berbahaya, karena saya tidak lagi dipacu untuk bertindak dan berpikir cepat, sehingga membunuh kreativitas saya.

    I am thinking it is time for me to find another place that cultivate my creatifity, walaupun harus pertimbangkan faktor a, b, c, d, e.

    regards,

Silahkan diberi komentar ya.. Thank you!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.