Aku menatap kaca mobil mewah itu dengan tangan terbuka.
Berharap mendapat belas kasihan dari si orang kaya ini. Berharap satu lembar uang ribuan atau satu koin 500an untuk aku berikan pada orang tuaku.
Aku sebenernya tak suka seperti ini.
Aku lebih suka bermain-main bersama-sama teman sebayaku, atau pergi ke sekolah beramai-ramai seperti yang di lakukan anak-anak lain seumurku.
Aku tak mengerti kenapa orang tuaku menyuruhku turun ke jalan dan menapaki hidup setiap hari di pinggir jalan seperti ini.
Tak terhitung berapa kali knalpot panas dari motor yang sedang berhenti di lampu merah itu mengenai kakiku dan membuatnya semakin hari semakin coreng moreng di tubuhku yang sudah menghitam legam karena cahaya matahari yang selalu membakar tubuhku.
Banyak orang menatapku dengan iba, tapi hanya sebatas itu. Mereka lalu pergi dan mengabaikanku.
Tapi ada juga beberapa orang yang berbaik hati menghampiriku, tersenyum tipis dan memberiku lembaran ribuan atau recehan.
Aku tak suka tidur dipinggir jembatan busway itu, atau di kolong jembatan ini.
Aku tak suka semua kekotoran yang menempel di tubuhku ini.
Aku benar-benar tak suka.
Tapi aku tak mengerti bagaimana caranya supaya aku bisa seperti anak-anak lain yang tubuhnya bersih dan terawat. Berjalan bergandengan tangan bersama ayah dan ibunya dengan penuh canda tawa dan kebahagiaan.
Aku? Melihat wajah ibuku saja aku hanya malam hari. Dan dia pun sudah tertidur. Mungkin dia juga lelah.
Aku tak pernah mengenal dan mengerti arti kasih sayang.
Akh.. kenapa mereka mengatakan aku nakal?
Aku hanya tidak mengerti bagaimana berkata-kata dan bersikap yang baik.
Ayah-ibu dan lingkunganku tak pernah mengajariku untuk bisa berlaku “baik”.
Aku hanya mencontoh orang-orang disekitarku yang sering aku lihat dan aku hadapi.
Aku sungguh heran mendapati diriku setiap hari bisa bangun dan terjaga dalam tubuh yang masih sehat.
Aku tak tau kekuatan dari mana yang membuatku terus bertahan menapaki hidup dan kerasnya arus hidup jalanan.
Pernah terdengar olehku, ada Tuhan dan malaikat-NYA yang menjagaiku selalu.
Akh.. aku tak tau itu..
Aku tak pernah melihat-NYA.
Tapi pasti ada yang menjagaiku ketika aku tertidur lelap karena kelelahan.
Catatan:
Aku pribadi merasa berat menuliskan ini.
Pasti apa yang dirasakan anak-anak jalanan yang malang itu lebih-lebih dari apa yang aku tuliskan di atas.
Anak-anak yang seharusnya masih bermain bersama teman-teman sebayanya sudah harus turun ke jalan dan mencari uang.
Tentu mereka kurang berkembang..
Tubuhnya, otaknya, perilakunya, sopan santunnya, spiritualitasnya..
Sedih sekali melihat di jakarta ini banyak sekali anak-anak jalanan yang terlantar dan tak terurus.
Mereka bertumbuh setiap harinya -sendiri-.
Tak ada tuntunan yang benar dan baik dari orang tua maupun dari lingkungannya.
mereka terlalu dini mengenal kerasnya hidup
Duh.. apa yang bisa aku lakukan?

Posted by Elli on September 17, 2008 at 9:49 am
Satu hal yang paling utama kita lakukan adalah berdoa agar mereka tetap bisa terjaga. Selain itu kita dapat juga membantu secara materi, tapi saya pikir bantuan ini sebaiknya dapat kita berikan kepada orang yang pantas menerimanay. Karena makin hari semakin banyak pengamen dan anak2 jalanan di jakarta ini khususnya. Tapi yang saya lihat seharusnya mereka mampu bekerja, akan tetapi yang menyebabkan hidup seperti itu adalah tidak ada usaha untuk bekerja, hanya berpikir untuk mendapatkan belas kasihan orang.
Sementara berapa kali pemerintah melakukan transmigrasi, akan tetapi ujung2nya karena kemalasan mereka kembali lagi ke jakarta ini untuk mengharapkan belas kasihan orang. jadi yang paling utama adalah kesadaran.
Akan tetapi terhadap anak2 kecil yang belum tau apa2, saya rasa ini adalah kesalahan besar dari orang tuanya yang tidak punya kesadaran dan malas.
Posted by ulan on September 17, 2008 at 10:13 am
prihatin dengan perhatian kita terhadap anak anak jalanan ya.. mau ngarepin bakal di perhatiin pemerintah juga kayak nya bakalan cuma ngimpi, mungkin kita yang lebih mungkin untuk mengayomi mereka..
Posted by alexander on September 17, 2008 at 12:46 pm
mari kita bentuk AntiQ Foundation…
(anganku yang masih sebatas mimpi…)
Posted by Nias Zalukhu on September 17, 2008 at 2:49 pm
Saya hanya bisa mengelus dada dan berharap agar saya tidak “memproduksi” mereka yang kelak menjadi anak jalanan….
Posted by Ivonne on September 17, 2008 at 3:57 pm
Kalau kondisinya udah seperti ini siapa yang salah ya eda?
Pemerintah yang kurang perduli sama warganya atau orang tuanya yang malas?
Beberapa dari mereka, melakuin itu karena orang yang harusnya tanggung jawab sama nasib mereka tidak mau ambil pusing.
Hal itu dialami korban lapindo.
Untuk bertahan hidup mereka harus turun kejalan.
Berharap uluran tangan sesama.
Miris bgt hatiku mendengar pengakuan kenapa mereka melakukan itu.
Tapi kembali lagi seperti yang eda pertanyakan.
Apa yang harus kita lakukan??
Untuk merealisasi ide Alex dalam waktu dekat ini, sepertinya masih sangat sulit.
Posted by sam on September 17, 2008 at 4:42 pm
Apa yang bisa anda lakukan? Kalo tulus, cobalah untuk hidup berdampingan dengan mereka dan rasakan keluh kesah mereka. Mungkin cobalah menjadi sahabat yang baik bagi mereka, itu sudah sangat membantu bagi mereka. Belum lagi bantuan yang anda berikan pada mereka (terserah anda) atau kepada seorang anak (terserah dalam bentuk apa) akan sangattttttttttttt membantu beban hidup mereka. Karena sangatlah jarang ada orang yang sudah tergolong mapan secara ekonomi mau menjalin persahabatan dengan mereka. Bener gak? Maaf kalo ada yang tersinggung!
Posted by Manik on September 17, 2008 at 7:17 pm
Aku heran, knp Pemerintah masih diam melihat hal yang begini??
geram rasanya melihat orang2 diatas sana, duduk dgn santainya melihat keadaan yg sudah berlangsung lama seperti ini…
Posted by xzbazt on September 18, 2008 at 9:26 am
Hmm…
Tidak ada yg kebetulan,
Qt berTemu dengan Mereka di Jalan buKanlah KetidakSengajaan..
Posted by ruben bukan onsu on September 18, 2008 at 5:51 pm
to.. gimana nih bisnis kita???? jadikan??
Posted by tobadreams on September 18, 2008 at 10:26 pm
sedang blogwalking…apa kabar Ito ?
btw aku nitip ya link artikel di blogku mengenai Batak Keren :
http://tobadreams.wordpress.com/2008/09/16/netty-br-sianturi-dari-pramugari-menjadi-petani/
Posted by farel on September 19, 2008 at 8:32 am
” mari kita bentuk AntiQ Foundation…
(anganku yang masih sebatas mimpi…) ”
Jangan bilang sebatas mimpi lae,
harusnya :
” ANTIQ FOUNDATION , SALAH SATU MIMPIKU”
Posted by Janpieter Siahaan on September 19, 2008 at 12:09 pm
Suarakan terus hati nurani kita pada jalurnya, minimal, pilih pimpinan dan partai yang memiliki kepekaan atas masalah-masalah kemanusiaan, mudah-mudahan ada titik cerah bagi negeri kita. Horas ito, salam kenal yah, mauliate.
Posted by glorialimbong on September 19, 2008 at 4:19 pm
@All
Thanks untuk setiap masukan maupun pemikirannya.
Semoga kita bisa merealisasikan nya dalam bentuk tindakan nyata
@Alex
Mungkin sudah bisa mulai kita coba-coba untuk memulainya dari hal kecil lex. Tapi blm ngerti nih mulainya dari mana..
Hm.. apa perlu kita AntiQ ngumpul dulu dan mulai membicarakan plan ini?
@ruben bukan onsu
done khan to
@tobadreams
Kabar baik ito.
No problem ito, silahkan saja..
@farel
Yup.. Setuju!!
@Janpieter Siahaan
Salam kenal ito..
Thank udah berkunjung
Posted by lintong nababan on September 20, 2008 at 9:23 am
Sebenarnya peran Komnas Anak & Menkesra terhadap anak2 jalan ini apa ya?
yg aku perhatiin belum ada rwujud nyata. Sia-sia negara kita punya komnas anak, menteri kesejahteraan rakyat kalau anank jalan dan gelandangan saja tidak bisa di kendalikan.
http://www.lintongnababan.wordpress.com
Posted by nindityo on September 21, 2008 at 4:55 am
emang sedih ya mbak..
tapi bukannya sebagian dari kita “memelihara” keadaan ini. dengan cara memberi “harapan” di lampu merah ?
entah karena gak sadar ato emang sadar dilandasi perasaan superior ?
Posted by lilis pujiati on Januari 8, 2009 at 3:14 pm
sebenarnya dapat diatasi oleh kita bersama asalkan kita mau melakukannya dengan sungguh dan ikhlas ,dan dibutuhkan niat tekat yang kuat penuh kesabaran serta tawakal yakin semuanya akan mampu diatasi
Posted by Ekko Paparazy Vierra on Januari 22, 2012 at 5:10 pm
.indonesia tidak akan pernah berhasil klo kita tidak mau mewujudkan nya