Lelaki itu masih duduk tertunduk sampai mukanya tak bisa terlihat dan lehernya melekuk.
Tubuhnya renta dan kulitnya sudah mengerut.
Dia duduk di tepi jalan setapak dimana orang lalu lalang.
Terlihat tubuh kotor dan rambut yang awut-awutan tak terurus.
Awalnya aku coba cuek dan tak peduli dengan kehadirannya. Terlalu banyak orang-orang seperti kakek itu di Jakarta.
Orang-orang yang dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk mencari uang.
Aku sudah melewatinya beberapa meter ketika hatiku berontak dan merasa diriku kejam sekali melewati pengemis renta seperti kakek itu tanpa seorang pun mengacuhkannya.
Apa yang harus kulakukan?
Apakah aku harus tetap memberikan uang ke tangan kakek ini?
Tapi uang itu belum tentu untuk dia, pasti ada orang yang mengawasinya yang memanfaatkannya untuk mencari uang.
Sudahlah, yang penting aku lakukan bagianku. Selebihnya biar Tuhan yang melakukan tugasNYA.
Akhirnya aku pun berbalik dan membagikan sedikit rejekiku kepada kakek itu.
Tapi aku tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Aku hanya berkata dalam hatiku, “Semoga Tuhan menjagamu kek”.
Dan akupun berbalik dengan seribu gejolak pikiranku. Tapi setidaknya sekarang hatiku lebih tenang.
Jakarta memang telah mengecilkan hati nuraniku untuk menolong sesama.
Awalnya ketika aku melihat begitu banyak pengemis dan pengamen, aku akan bagikan sedikit rejekiku.
Tapi ketika dengan mata kepalaku sendiri aku melihat anak-anak kecil di manfaatkan oleh ibunya yang duduk-duduk santai di bawah jembatan untuk mendapatkan uang, aku pun muak.
Sebenernya mereka miskin karena malas bekerja atau mereka sudah berusaha juga tapi nasib mereka masih begitu2 saja?
Sulit bagiku membedakan siapa yang layak di tolong dan siapa yang tidak layak ditolong.
Kepercayaan terhadap orang lain sudah berkurang, belas kasihan dan sikap tolong menolong pun terkikis oleh kejamnya Jakarta.
Semoga nurani (Roh) ini masih tetap hidup, sehingga alarm-alarm peringatan pertanda baik maupun buruk terus bekerja dan aku mampu mendengarnya..
Ket: Gambar di atas saya comot tanpa ijin dari sini
Semoga aku dimaafkan
June 30, 2008 at 5:07 pm
yah… sungguh emang hati nurani terombang-ambing melihatnya.. dan ntah sudah terbiasa setaip ada pengamen (org meminta sumbangan) mendekatiku, otomatis tangan ku bergerak memberi sinyal penolakan… yah.. walaupun aku menolaknya dengan wajah tersenyum dan berkata “maaf” dan si peminta jg membalas dgn wajah “senyum” jg…
dan info soal larangan pemerintah.. yg memberikan suang kpn org2 yg mengemis di jalan ato lampu merah didenda sekian juta… g jelas sih infonya.. tp terkadang hal ini aku jadikan utk membenarkan diriku…
bingung mode = ON
June 30, 2008 at 5:11 pm
saya juga sering menghadapi situasi seperti itu..
seperti makan buah simalakama aja
apa yang harus saya perbuat?
Peace All
June 30, 2008 at 5:14 pm
@pardosa & @Someone
Satu-satunya jalan yang kugunakan untuk menghadapi kebimbangan itu adalah mengikuti kata hati.
Tapi itu juga gampang-gampang sulit mendengarnya..
July 1, 2008 at 2:25 pm
Hmm…
Artikel bagus bere, sangat bagus dan sangat sulit.
Tau lagu “burung rajawali”?
yg liriknya ” ku khan terbang tinggi, bagai rajawali”
ada cerita di balik itu yang berhubungan dengan tindakan kita dengan situasi diatas.
Ceritanya nya itu gini:
Burung Rajawali itu masa hidupnya bisa sampe 75 tahun bere. Knapa dia terbang tinggi ? Karena dia mau pergi ge gunung yang sangat tinggi yang berbatu keras…
Ngapain?
teryata setelah umur 50 tahun, paruh rajawali itu akan membengkok dan menusuk ulu hatinya sendiri bere.
Akibatnya Kematian.
Jadi ceritanya dia ke gunung tinggi itu untuk memukul-mukulkan paruhnya ke batu gunung yg keras selama 100 hari tanpa berhenti. Sampai akhirnya patah dan akan tumbuh yang baru.
Tentu saja prosesnya nya itu sakit sekali. tapi dia melakukannya agar bisa hidup lebih lama. Dan menjadi rajawali yng baru.
Gitulah bere. Untuk menjadi manusia baru emang menyakitkan hati. tapi Akhirnya pasti baik.
Dan satu lagi bere , Manusia baru itu dalam membantu itu tidak memasalahkan kondisi orang yang dibantu itu.
Masalahnya ada pada diri kita sendiri.
Apakah kita mau membantu atau tidak.
Jadi jangan lihat kondisi orang lain itu, apakah dy baik ama kita, ato jahat, ato mungkin dia malas.
Tapi masalahnya pada diri kita sendiri.
Sulit emang….
he.he.he.he.he
sorry kepanjangan ya bere..
July 1, 2008 at 2:31 pm
serba salah ya..
July 1, 2008 at 3:28 pm
begitulah
July 1, 2008 at 3:39 pm
@xzbazt
Speechless aku bah tulang..
Betul nya nean yang tulang bilang itu..
Tapi memang sulit kali prakteknya tulang.. Apalagi menolong orang yang jahat sama kita.
Tapi apa beda nya kita dengan orang lain yah kalo berbuat baik hanya pada orang-orang yang berbuat baik pada kita
Penjahat pun mungkin melakukan hal yang baik pada orang yang baik padanya..
Tapi kalo menolong orang yang jelas-jelas kita lihat malas-malasan, hatiku agak berontak tulang.
Misalnya aja anak muda yang berpenampilan compang camping, trus ngemis2 sama kita. Blm lagi plus nada ancaman. Cape deh.. (Tapi kadang2 dalam kasus begini, aku kasih juga karna ketakutan.. Fuihh).
@ Menik.
yah.. begitulah bun..
July 1, 2008 at 3:55 pm
Speechless?
Apa Itu?
hahahaha
July 1, 2008 at 4:06 pm
klu aku dihadapkan ke hal kayak gini..
apalagi klu ga ada duit, maksa juga mau ngasih 
yah klu lagi ada duit ya kasih aja seadanya, jangan terpaksa.
klu ada duit dan juga lagi ga mau ngasih, ya jangan dipaksa juga dek
ntah dia nipu ato ngapain lah … selama dia ga ngerampok aje.
ini “kemiskinan” bukan kebodohan apalagi “kutukan”, dan bukan kemalasan, kira2 kayak gitu lah yang dibilang si RENDRA dek.
haha
tapi satu yang aku ucap dalam hati setiap kali memberi adalah
“Semoga bisa dipake buat beli makan ya hari ini ”
July 1, 2008 at 7:20 pm
Disaat seperti ini kita sangat di uji ma Tuhan………..
jangan pernah melihat saudara2 ku itu dengan mata manusia, tetapi lihat lah mereka dengan mata hati, dengan ketulusan. jangan pernah terucap kata olokan untuk mereka, sebab mereka pun tak ingin seperti itu apabila mereka dapat seperti kita, memiliki apa yang kita miliki.
Tapi mereka lah kelak penghuni surga, merekalah kelak yang mendapatkan mahkota kehidupan, mereka yang akan menikmati kedamaian hidup. dengan penuh semangat mereka bertahan dalam pedihnya penderitaan hidup mereka, sungguh hebat dibandingkan dengan kita yang hanya mampu tersenyum dan tertawa dengan kebohongan, ramah dalam kemunafikan, merasa paling hebat dalam segala hal. mereka adalah guru yang luar biasa, mereka telah mengetahui bahaya yang terberat dalam hidup ini.
Salam buat saudara2 ku yang berjuang ditengah-tengah getirnya kehidupan…….
July 1, 2008 at 10:41 pm
waduhhh… dekkk itu si RENDRA ..
WS RENDRA mksdnya.. penyair yang terkenal dengan sastra yang dekat dengan orang kecil dek …
dulunya penyair besar,
tapi akhir2 ini ga kedengeran .
July 2, 2008 at 8:42 am
soalnya rendra lagi bosan bikin karya tulis bang
sekarang mw bikin lukisan katanya
hahaha
July 2, 2008 at 9:19 am
@Bob S Simbolon
Thank buat opininya to..
Semoga bisa kita amalkan bersama
@Ecko
Oh.. hehehe… kalo WS Rendra aku sering denger namanya bang.. walopun aku blm pernah baca karyanya.
Tapi pastilah dia seorang sastrawan terkenal..
@xzbazt
Ah.. serius kau Lang??
July 2, 2008 at 12:35 pm
ga percaya ini lah
dah bosan dy
kayak aq
hahah
July 2, 2008 at 4:59 pm
terima kasih iban, sudah memberi peringatan, sebelum hati nurani ini mati…
bahkan saya pernah men cuekin nenek2 yang bajunya compang camping tapi saya dan teman2 makan berlebihan.
hmmmm
mauliate.
July 2, 2008 at 7:15 pm
Tapi terkadang kita harus membunuh rasa di hati yang mengatakan kasihan bila kita mengetahui ada apa sebenarnya di balik semua itu…
hehehe
July 2, 2008 at 7:45 pm
kemarin aja aku pas jalan2 ke ATRIUM, egh dipinggiran jalan itu ada nenek2 gitu degh, kasihan juga sih…
kak, intinya menolong sesama biar kita juga akan ditolong..
July 2, 2008 at 8:13 pm
dalam perang batin ini saya bertanya , apakah mbak masih tinggal di sumut ?
kalo ya mari bergabung di sini
bloggersumut.wordpress.com
supaya tak ada lagi perang batin
makasih
July 3, 2008 at 8:19 am
@Zalukhu
Sebenernya hati kita senantiasa menyuarakan kebenaran kalo kita pupuk dengan hal-hal yang baik. Dan suara hati itu akan berhenti mengumandangkan kebenaran kalo kita senantiasa mengabaikan peringatannya..
Thx sudah berkunjung..
Salam Kenal..
@okta sihotang
Yah.. itu mah memberi dengan mengharapkan balasan dek..
Bukankah justru kita seharusnya memberi tanpa mengharapkan orang lain melakukan hal yang sama pada kita?
Tidak mudah memang..
@bikaambon
Saya sekarang bermukim di Jakarta. Artinya saya tidak bisa bergabung di blogger sumut yah?
Aniway.. thank u for coming.. Silahkan berkunjung kembali di lain waktu
July 3, 2008 at 11:07 am
serba salah memang kalau melihat pengemis ato pengamen. Kalau untuk pengamen, kalau aq terhibur, aq kasih.
Kalau pengemis, aq mikir 2 kali,bkn 2 kali aja tahe, 18061986 kali mungkin. Kenyataannya banyak pengemis yang kaya. Di surabaya ini, ada pengemis punya 4 rumah dan 2 mobil, CRV lagi salah satunya.
Waktu maen ke puncak juga, ada bapak- bapak pengemis, ga punya kaki. Tiap mobil yg lewat, ngasi seribu. Waktu itu aq naek angkot. Karna penasaran,aq tanya supirnya. Ternyata si pengemis itu sudah punya rumah,di pinggir jalan menuju puncak lagi. Punya bengkel, istri 4. Mau gimana coba ??
Tarhona iba mangalean tu ibana, awak aja blm punya cewek,dia punya 4 istri lagi.
Menurutku, biar la orang tua yang ga mampu dan orng miskin, itu urusan negara. uda ada UUD nya kan ?? jadi ga perlu merasa berdosa.
July 3, 2008 at 11:20 am
@David Simamora
Sayangnya to, negara pun blm bisa menanggung jawabi semua warga miskin di negara kita ini.
Utangnya aja banyaknya bukan main.
Kalo aku sendiri sih, pilih-pilih sapa yang layak aku tolong.. Mengikuti kata hati aja..
BTW, sepertinya angka 18061986 ada maknanya deh..
July 4, 2008 at 10:37 am
Aq setuju dengan comment bang ecko n memberikan sesuatu dengan hati iklas
“Kita diberi berkat agar kita bisa menjadi berkat bagi orang lain yang membutuhkan”
Good bless us
July 8, 2008 at 10:22 am
Kadang keraguan yang slalu memberikan kebimbangan jiwa,….tapi percayakanlah pada hati nurani kita,….
salam kenal ya mbak,..
July 8, 2008 at 2:48 pm
@Noe
Yuk… mariiiii
@avartara
Ypp.. aku percaya sama hati nuraniku mas.. karna aku tau, nuraniku berkata benar..
Salam kenal juga mas..
Silahkan datang berkunjung lagi..
July 22, 2008 at 10:43 pm
Weks.. kalau di tempatku saat ini beda lagi, ada orang2 dengan pakaian yg bisa dibilang lumayan rapi (tapi sudah lumayan tua) mendatangi rumah2 di kompleks perumahan dengan bermodalkan salam, dan berharap mendapatkan uang… atau bantuan…..
Mengenaskan memang, terkadang saya tidak habis pikir, ada apa dengan negara ini, siapa sebenarnya yang salah, masyrakat yg malas bekerja atau pemerintah yang tidak mampu memberikan pekerjaan buat rakyatnya, ataukah memang nasib bangsa kita untuk jadi seperti ini?
July 23, 2008 at 8:09 am
@rotyyu
Dunia emang makin penuh dengan hal-hal aneh sekarang to..
Makin semrawut tak beraturan